Sekilas tentang Masjid Kampus UGM

halaman masjid kampus ugmFungsi masjid yang paling utama adalah sebagai tempat beribadah umat Muslim. Konsep ini kemudian berkembang dengan memfungsikan masjid tidak hanya dijadikan tempat peribadatan, tetapi juga sebagai tempat pertemuan, menyelenggarakan pendidikan, aktivitas ekonomi, serta aktivitas yang lain. Pengembangan konsep inilah yang kini muncul di Masjid Kampus Universitas Gadjah Mada (Masjid Kampus UGM).

Masjid Kampus UGM berlokasi di Kompleks Masjid Kampus UGM, Bulaksumur, Depok, Sleman, Yogyakarta 55281. Pengembangan konsep masjid sebagaimana yang kini tampak pada Masjid Kampus UGM sebenarnya merupakan idealisasi dan fungsi sebenarnya dari anjuran penyebar agama Islam, Nabi Muhammad SAW. Konsep tersebut kini mulai terlihat di Masjid Kampus UGM, apalagi didukung oleh fasilitas yang memadai. Selain suasana yang kondusif, Masjid Kampus UGM juga memiliki sarana dan prasarana yang memadai untuk mewujudkan konsep masjid yang ideal.

Suasana Masjid Kampus UGM memang sangat nyaman karena lingkungannya yang asri dengan banyaknya pohon, seperti pohon palem raja dan damar serta taman yang terawat rapi. Bangunan masjid yang megah dengan arsitektur yang indah menambah nyaman suasana ketika berkunjung ke masjid ini. Sarana dan prasarana pendukung dimanfaatkan secara maksimal sebagai tempat untuk pertemuan, kajian keagamaan, pendidikan, bahkan kegiatan perekonomian.

Di luar konsep ideal di atas, Masjid Kampus UGM kini juga berfungsi sebagai tempat wisata religius. Banyaknya tempat yang indah untuk berfoto menjadikan Masjid Kampus UGM menjadi lokasi yang sangat tepat bagi wisatawan yang ingin menikmati sensasi berkunjung ke obyek wisata religi non-suasana mistis. Maka tidaklah mengherankan jika setiap kali kita berkunjung di tempat ini, banyak wisatawan yang memanfaatkan setiap sudut ruangan dan halaman masjid untuk berfoto. Salah satu tempat favorit untuk berfoto adalah gerbang masjid dengan panorama gapura lengkung yang terbuat dari batu.

Pada awal pembuatannya, gapura lengkung ini hendak dibuat 3 buah. Tetapi karena keterbatasan dana, gapura lengkung ini hanya berhasil dibuat satu buah sampai sekarang. Gapura setinggi 12 meter yang berdiri kokoh ini seolah-olah bertugas mengucapkan selamat datang kepada para pengunjung. Setelah melewati gapura lengkung, pengunjung akan menikmati pemandangan sebuah kolam yang berhiaskan air mancur. Di tengah-tengah kolam dipahat kalimat Bismillah dengan tulisan Arab.

Masjid Kampus UGM pertama kali dibangun pada tanggal 21 Mei 1998 yang ditandai dengan peletakan batu pertama oleh Prof. Dr. Sukanto Reksohadiprodjo, M.Com (Rektor UGM waktu itu). Pada awal pembangunan, panitia pembangunan masjid hanya mempunyai dana sebesar Rp 60 juta. Tetapi berkat kegigihan panitia dan sumbangan para donatur dari berbagai kalangan yang peduli terhadap pembangunan masjid ini, dana yang terkumpul cukup untuk membuat sebuah masjid kampus yang megah dan representatif untuk memenuhi konsep ideal sebuah masjid.

Masjid Kampus UGM digunakan untuk pertama kalinya pada 4 Desember 1999 atau 5 hari menjelang 1 Ramadhan 1420 H, setelah menghabiskan dana sebesar Rp 9,5 miliar. Lantai satu dan lantai dua beserta halaman masjid mampu menampung jamaah sebanyak 10.000 orang.

Arsitektur Masjid Kampus UGM dibuat dengan menggabungkan bahan lokal dan impor kualitas terbaik. Pintu utama masjid dan daun pintu dibuat tinggi dan dibalut oleh besi tempa. Sedangkan tembok di kanan-kiri pintu ditutup dengan keramik yang didatangkan dari Amerika Serikat, India, dan sedikit produk lokal untuk tiang tengah.

Lantai masjid terbuat dari marmer dan keramik berwarna hijau, merah, dan cokelat. Keramik untuk lantai yang berwarna hijau didatangkan dari Brazil, warna merah dari Batu (Malang), dan keramik berwarna kecokelatan dari Korea.

Tiang masjid juga dibalut dengan keramik dan kuningan. Keramik yang berwarna hijau untuk tiang masjid diimpor dari Brazil. Sedangkan semua yang berbahan kuningan, seperti aksesoris pada tiang, dinding, kaligrafi, hingga lampu gantung didatangkan dari Cepogo, Boyolali. Hiasan yang berada di mihrab, ditiru dari mihrab salah satu masjid di Iran yang divisualisasikan oleh mahasiswa teknik arsitektur UGM dengan mengambil inspirasi dari bentuk rumah lebah.

Suasana, sarana dan prasarana, serta kegiatan yang berkesinambungan di Masjid Kampus UGM membuat masjid ini layak disebut sebagai miniatur peradaban masyarakat Islami. Masjid Kampus UGM memang telah difungsikan sebagai pusat berbagai kegiatan, baik kegiatan agama, wisata, maupun pendidikan.

B. Keistimewaan

Arsitektur Masjid Kampus UGM merupakan perpaduan dari gaya arsitektur Masjid Nabawi, kebudayaan Tionghoa, India, dan Jawa. Gaya arsitektur Masjid Nabawi terlihat jelas pada lengkungan-lengkungan bangunan utama dengan hiasan kaligrafi yang makna tulisan itu mengagungkan nama Sang Pencipta.

Kalimat dan ayat-ayat suci tersebut sambung-menyambung sampai ke mimbar masjid. Salah satu dari tulisan itu mengandung arti: “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup, dan matiku, hanyalah untuk Allah, Tuhan seru sekalian alam”.

Kawasan yang sebelumnya berupa kuburan Cina itu, mengilhami arsitektur bangunan bergaya arsitektur Tionghoa. Inspirasi tersebut terwujud pada ornamen-ornamen di sekeliling masjid yang dominan dengan warna merah muda dan warna emas yang merupakan warna khas etnis Tionghoa.

Pengaruh India terlihat melalui penataan pekarangan masjid yang mengadopsi bangunan Masjid Taj Mahal. Penataan pekarangan tersebut, misalnya menanam berbagai macam pohon di sekeliling masjid, membuat kolam yang dilengkapi dengan air mancur, serta menanam bunga teratai di sekeliling kolam.

Arsitektur Jawa terlihat jelas pada bangunan utama dan kubah masjid. Kubah Masjid Kampus UGM berbentuk limasan sebagai representasi rumah adat Yogyakarta yang berbentuk Rumah Joglo dengan atap limasan. Tinggi struktur kubah mencapai 32 meter dengan lebar 21 meter. Kubah dan atap masjid ditopang dengan rangka baja. Kubah itu dibuat dari bahan policarbonat transparan dan alumunium keemasan yang didatangkan dari Korea. Di tengah ruangan terdapat lampu gantung yang terbuat dari kuningan dengan jumlah bohlam sebanyak 32 buah. Lampu ini dikontrol secara manual serta remote untuk menurunkannya. Berat lampu ini hampir mencapai 1 ton.

Bahan atap dan kubah memang dibuat transparan dengan tujuan agar sinar matahari bisa masuk dan menerangi ruangan masjid. Selain terlihat di Masjid Kampus UGM, konsep memadukan unsur lokal dengan unsur Islam juga terlihat pada arsitektur Masjid Al Markaz di Makassar, Masjid Agung Batam, dan Masjid Kampus ITS (Institut Teknologi Sepuluh November) di Surabaya.

Seluruh arsitektur Masjid Kampus UGM dikerjakan oleh mahasiswa teknik arsitektur UGM. Selain ornamen yang khas, Masjid UGM juga mempunyai menara setinggi 99 meter. Tinggi menara menyesuaikan dengan asmaul husna (nama-nama Tuhan yang baik) yang berjumlah 99 nama. Dari puncak menara ini para pengunjung dapat melihat lanskap wilayah Yogyakarta.

Tak dapat disangkal jika kemegahan Masjid Kampus UGM menjadi kebanggaan bagi civitas akademika UGM. Sebab, hingga hari ini Masjid Kampus UGM masih tercatat sebagai masjid kampus terbesar se-Asia Tenggara.

Salah satu fasilitas yang ada di Masjid Kampus UGM adalah ruang pertemuan yang sekaligus dapat berfungsi sebagai tempat diskusi dan kegiatan yang lain. Selain itu, halaman masjid juga dibuat sangat luas dengan fasilitas tempat parkir yang juga luas.

Para pengurus Masjid Kampus UGM aktif menggelar kajian keagamaan. Salah satunya adalah kajian keagamaan yang diadakan oleh Jamaah Shalahuddin Masjid Kampus UGM.

Berbagai aktivitas lain, baik yang bersifat pendidikan, kebudayaan, maupun perekonomian juga sering diselenggarakan di masjid ini. Salah satu contoh kegiatan tersebut adalah pameran fotografi karya fotografer muslim dari Inggris, Peter Sanders melalui Kedutaan Besar Inggris pada 18-23 Februari 2008.

Kegiatan perekonomian juga berlangsung aktif di masjid ini. Setiap hari terdapat penjual buku dan aksesoris muslim/ah yang berjualan di lingkungan masjid. Sedangkan setiap hari Minggu, di sekitar Masjid Kampus UGM dipakai sebagai pasar tiban yang terkenal dengan sebutan Sunday Morning. Di pasar tiban ini dijual berbagai macam makanan, mulai dari lontong Sumatra, opor ayam, sampai makanan kemasan; baju muslim, mulai dari kerudung, peci, dan baju koko; aksesoris anak muda; kaos; sepatu; sampai tanaman hias.

Masjid Kampus UGM

http://mardliyyah.wg.ugm.ac.id/news/detail/6

Iklan

About Blognya Toko Almishbah

Blognya toko almishbah ; Berbagi Informasi..kepada Anda, semoga bermanfaat www.amishbah.com

Posted on 23 Juli 2012, in Masjid, umum and tagged , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Meta

  • %d blogger menyukai ini: